Saifullah Yusuf Dekat Kiai, Dekat Rakyat

Oleh irwan • 22 Jul 2008 • Kategori: Liputan Media, pilgub [ 327 ]

Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dikenal rajin sowan kepada para kiai. Itu dilakukannya sejak dulu sampai sekarang. Tapi kepada warga biasa pun, dia juga mudah akrab. Pada 2004, sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Gus Ipul hendak bersilaturahmi dengan sejumlah kiai di sebuah pondok pesantren kawasan Pacet, Mojokerto.

Ada banyak orang yang disalaminya di halaman pondok. Saat hendak masuk ruang pertemuan, tiba-tiba Gus Ipul berbalik. “Rokok-e mana?” tanya Gus Ipul kepada seorang pemuda.
Yang ditanya segara menyodorkan sebungkus rokok. Gus Ipul mengambil dua batang rokok sekaligus, bukan cuma satu selazimnya orang minta rokok. Dan, justru dua batang rokok itu yang dikembalikan lagi kepada si pemuda tadi.

Sebungkus rokok yang masih banyak isinya malah dia kantongi. “Tak gawa sik rokokmu, yo,” kata Gus Ipul. Irfan, pemuda dari Kemlagi, Mojokerto itu tertawa mengenang perkenalan pertamanya dengan Gus Ipul. Irfan jadi terkesan pada kelihaian Gus Ipul menjalin keakraban dengan orang yang baru dikenalnya.

Selama masa kampanye, dia juga sering menggunakan pendekatan spontan. Sewaktu dia berjalan-jalan di Jl Doho, jantung Kota Kediri, 15 Juli lalu, ada seorang ibu yang senang melihatnya.

Bu Retno, warga Jl Doho, sampai berlari keluar rumah padahal masih mengenakan daster dengan rambut digelung tak rapi. Perempuan Tionghoa itu bahkan berlarian sambil terus bicara lewat telepon portable di telinga kanannya. “Pak, pak, ini ada Gus Ipul,” teriak Bu Retno kepada lawan bicaranya di telepon ketika melihat Gus Ipul mendekat.

“Ini saya lagi telepon suami,” ujar Bu Retno sembari menepuk-tepuk lengan Gus Ipul.
Telepon pun berpindah ke tangan Gus Ipul. Spontan saja Gus Ipul berbicara dengan suami Bu Retno di ujung telepon.

“Pak, perkenalkan. Saya Gus Ipul, calon wakil gubernur, ada salam dari Pakde Karwo. Mohon pangestunya ya,” ujar Gus Ipul. Melihat itu, Bu Retno tak bisa menahan tawanya. Tubuhnya bergetar karena tawa, tangannya tak berhenti menepuk-tepuk lengan Gus Ipul. Ibu yang sudah berumur ini lantas menggamit tangan Gus Ipul. “Gus Ipul itu orange supel yo? Kok sudah seperti kenal lama,” katanya, riang sekali. Padahal, dalam anggapan Bu Retno, Gus Ipul tergolong orang penting dan terkenal.

Lain lagi ketika dia nyelonong ke sebuah Apotik Doho Sehat di Kediri. Dia menyalami tiga karyawati di sana. Salah satunya langsung meminta baju seragam KarSa, akronim Soekarwo-Saifullah, seperti yang dipakai Gus Ipul. “Mestinya kasih baju yang seperti ini,” si karyawati iseng sembari menunjuk baju yang dipakai Gus Ipul.

Lagi-lagi, Gus Ipul menanggapi spontan. “Ijol, yo?” katanya, membuka kancing paling atas bajunya seolah-olah hendak membuka baju betulan. Ketiga karyawati itu tertawa, pelanggan apotik ikut ngakak.

Gus Ipul memang humoris dan luwes bergaul dengan semua golongan. Mantan anggota DPR RI dari PDIP, lalu masuk PKB dan tak lama kemudian menjabat Sekjen DPP PKB ini mirip pamannya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Ipul muda pernah bercita-cita menjadi guru madrasah. Tetapi dia garis hidupnya ternyata di luar ‘kendali’. Meski begitu, Gus Ipul memandang semua pekerjaan mulia. “Wak Modin itu pun mulia, jabatan apa saja mulia,” katanya kepada Imam Hidayat dari Harian Surya.

ebagai cucu pendiri NU dan mantan menteri, Gus Ipul tidak merasa rendah ketika dijagokan sebagai cawagub berpasangan dengan cagub Soekarwo. Baginya, esensinya bukan jabatan tetapi kepatuhan pada kiai, serta keinginannya berkontribusi bagi tanah kelahirannya.

Para kiai yang meminta saya untuk maju. Apalagi bagi saya jabatan wagub tak bisa disandingkan dengan menteri. Wagub itu dipilih oleh rakyat,” kata lelaki kelahiran Pasuruan, 28 Agustus 1964 ini.

Ia pun melihat banyak hal saat berkeliling Jatim. Dia lebih banyak mendengar langsung keluhan rakyat. Maklum, Gus Ipul juga cukup lama jadi wartawan. “Saya ini orangnya simple. Saya lebih senang yang spontanitas. Karena spontanitas ini saya bisa lebih improvisasi diri,” kata pengagum Wahid Hasyim, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dan Ali Syari’ati ini.

Sebelum dan selama kampanye, Gus Ipul memahami rakyat sedang susah dan prihatin karena harga barang-barang pokok naik. “Keinginan mereka sederhana, bagaimana harga barang-barang pokok ini bisa turun. Ya tidak turun drastis, tetapi bisa terjangkau,” imbuhnya.
Ia pun menyimpulkan, solusinya meningkatkan daya beli masyarakat. Salah satunya membuka lapangan kerja dengan model padat karya. “Padat karya di desa-desa harus diperbesar. Kita berikan uangnya ke desa, sehingga desalah yang menentukan apakah uang ini untuk pembangunan jalan, air bersih, atau permodalan atau apa-lah yang mereka lebih tahu kebutuhannya. Pemprov hanya akan mengawasi apakah uang itu dipergunakan dengan benar atau tidak,” bebernya.

Tetapi, di tengah keprihatinan ini, masyarakat masih berharap ada sesuatu yang membuat kondisi berubah. “Kesabaran rakyat luar biasa dan itu potensi. Jadi kalau ada pemimpin menyia-nyiakan ini, rasanya kok memubazirkan potensi ini,” kata satu-satunya kandidat dari kawasan Tapal Kuda ini. bet

Jatuh Cinta di Hotel Calon Mertua

Sepak terjang Saifullah Yusuf tak lepas dari sosok Ummu Fatma, istrinya yang dikenal tahun 1995 lalu. Kala itu, Gus Ipul menginap di Hotel Fatma, Jombang. Saifullah langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Setahun kemudian, Gus Ipul menikahi Ummu Fatma yang tak lain anak pemilik Hotel Fatma.

Mereka dikaruniai empat anak; Selma Halida, M Falihuddin Daffa, M Rayhan Hibatullah, dan M Farrelino Ramadhan. Ummu Fatma juga turut sibuk mendampingi Gus Ipul sebelum maupun semasa kampanye.

Kala suaminya berdialog dengan abang becak di depan Masjid Agung Kota Kediri sebelum salat Maghrib, ia membagi stiker kecil dan pin bergambar KarSa kepada warga lain. “Mohon dukungannya, ya,” ujarnya sembari memberikan pin.

Berkeliling seharian, tentu membuatnya letih. Apalagi, harus berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota dan masuk gang untuk berziarah ke Istana Gedong. “Saya tak ingin berandai-andai. Tetapi, pengalaman sewaktu jadi istri menteri, saya membantu ibu Ani (Kristiani, istri Presiden SBY, Red), untuk rumah pintar dan mobil pintar. Saya rasa, nanti juga akan berlaku yang sama, membantu Bude Karwo (Nina Kirana, istri Soekarwo, Red) dalam mendukung program pemerintah Jatim,” katanya.

Disinggung soal pandangannya terhadap Gus Ipul, Ummu Fatma melihatnya sebagai sosok yang pantang menyerah. Katanya, selain humoris, Gus Ipul juga penuh perhatian, sabar dan ramah. “Suami saya itu orangnya pantang menyerah, ia akan berusaha meraih apa yang diinginkannya,” ujar perempuan berkacamata bening ini. bet

Leave a Reply