Sosok Soekarwo: Utamakan Manfaat Daripada Keadilan
Baju putih. Kopiah hitam. Brengos tebal. Murah senyum. Nama bekennya Pakde Karwo, lengkapnya Soekarwo. “Lho, biasanya kan kalian ini wartawan yang suka menyebut saya begitu?” sahut calon Gubernur Jawa Timur ini saat ditanya asal usul nama bekennya. Dia lalu tertawa. Kelopak matanya sampai sipit.
Soekarwo dan keluarga tinggal di Jl Kertajaya Indah Timur, Surabaya. Arsitektur rumahnya cenderung ke Eropa modern tapi perabotnya Eropa klasik. Pada dinding berwallpaper, terpajang foto Soekarwo dan istrinya, Nina Kirana sedang di Australia.
Anak lelak mereka, Ferdian Timur Satya Graha, memang ngangsu kawruh bisnis internasional di Universitas Deakin, Melbourne.
Like father like son. Anaknya gandrung ilmu pengetahuan sebab bapaknya rakus belajar. Dan, perpustakaan pribadi adalah salah satu indikator kualitas intelektual seseorang. “Hobi saya dua, olahraga dan baca buku. Makanya, saya suka koleksi buku,” katanya kepada Aji Bramastra dari Harian Surya.
Ia mengajak ke perpustakaan keluarga. Sambil berjalan, Soekarwo bicara soal hobinya yang hilang. “Dulu, sebelum jadi Sekda, saya selalu sempatkan main badminton sama teman-teman. Setelah itu, apalagi pas maju pilgub ini, jadi tidak ada waktu lagi. Paling cuma jogging pagi sama keluarga,” katanya.
Sebelum masuk perpustakaan, ada meja makan dengan enam tempat duduk. Tak banyak yang tahu, keputusan maju tidaknya Soekarwo berawal dari meja makan ini. Layaknya di meja parlemen, ada voting di meja makan itu.
“Saya bilang ke istri dan anak-anak. Ada yang mencalonkan bapak jadi gubernur. Selama ini bapak sudah usaha mengumpulkan cukup bekal untuk kalian. Sekarang saatnya bapak mengabdikan hidup untuk masyarakat,” ujar Soekarwo. Matanya melirik meja makan.
Semua mengangguk. “Anak saya yang paling kecil sempat mengajukan syarat. Bila nanti saya terpilih, harus sebisa mungkin menyisakan waktu untuk keluarga,” kenang Soekarwo.
Pada dinding di lantai dua, terpajang lukisan ekpresionis bikinan seniman asal Jember, Sujiwo Tejo. Coretan kuas menggambarkan pria berkopiah dan brengos. Ada sosok Semar di atas figur pria itu. Semar niscaya pengabdi masyarakat yang bijak. Ini mungkin personifikasi Soekarwo tapi dia sendiri mengaku tak tahu maknanya.
Ia mengaku lukisan itu tiba-tiba dikirim Sujiwo Tejo ke rumahnya. “Nggak tahu kenapa. Jangankan mbayar, pesan saja saya tidak pernah,” jawab Soekarwo. “Yang buat hanya pesan, nanti kalau ada pameran sewaktu-waktu saya pinjam.”
Yang unik, Soekarwo mengaku belum pernah sekalipun bertemu dengan Sujiwo Tejo. “Katanya, dia lihat saya dari baliho,” ucapnya tertawa. Tak lama, Nina Kirana bergabung.
Obrolan jadi tambah gayeng. Sebagaimana Soekarwo, Nina juga dari Madiun. Dialek Jawanya halus. Dia ikut masuk perpustakaan. Ada tiga almari di sana, salah satunya khusus untuk menyimpan buku terbitan luar negeri.
Dari kategori buku-bukunya, terlihat minat Soekarwo merentang lebar. Mulai soal agama, hukum, ekonomi, geografi, hingga pengetahuan ringan seperti Einstein Aja Tidak Tahu. “Tapi kebanyakan memang buku hukum, sesuai disiplin ilmu saya,” ujarnya. Soekarwo memang melulu belajar hukum dari bangku kuliah sejak S1 hingga S3. “Bapak itu kalau baca buku cepat sekali,” Nina menyahut.
Di tengah, sebuah meja tanpa kaki dan beberapa bantal disiapkan untuk membaca sambil lesehan. Nyaman sekali. Tapi tidak semua buku koleksinya asli. Fotokopian pun ada. “Buku itu memang tidak diperjualbelikan karena buku ajar para dosen. Saking kepingin memilikinya, saya akhirnya harus puas fotokopi,” terang Soekarwo. Dia lalu mencari-cari sebuah buku. “Nah, ini dia buku favorit saya.”
Buku bersampul kuning muda itu berjudul Fragment on Government, karangan pakar hukum pemerintahan asal Inggris, Jeremy Bentham. “Banyak pakar bilang, hukum itu bersifat normatif yang hanya berlaku untuk kepastian dan keadilan. Nah, kalau saya lebih cenderung ke hukum sosiologisnya Bentham, di mana azas manfaat menjadi lebih penting daripada keadilan,” Soekarwo meringkas Bentham.
Dia lalu kasih contoh. “Menyelesaikan sesuatu tidak akan steril dari masalah lain. Misal, menggusur rumah dari tepi kali. Setelah digusur, daerah memang jadi bersih. Namun, kita harus memikirkan bagaimana kelanjutan nasib pemilik rumah,” terangnya.
Ada satu buku lagi yang disukainya; Grameen Bank karya Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006 asal Bangladesh. Buku Grameen Bank diterjemahkan menjadi Bank Kaum Miskin, April tahun lalu.
Yunus adalah bankir yang mengembangkan konsep kredit mikro, pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum. “Ini bisa dicontoh pembangunan usaha mandiri masyarakat,” ujar Soekarwo.
Anak PM, Petani Makmur
Soekarwo kecil dihabiskan di Palur, sebuah desa agraris yang terletak tujuh kilometer dari jalan raya Madiun-Ponorogo. “Saya ini anak desa yang lahir di tengah kehidupan agraris,” katanya.
Bapak dan ibunya tergolong PM, petani makmur. Mereka punya lahan luas yang lebih dari cukup untuk membiayai studi anaknya. Soekarwo remaja belajar di SMP Negeri 2 Ponorogo dan SMAK Sosial Madiun. Kuliahnya jurusan ilmu hukum di Universitas Airlangga sejak 1970.
Saat kuliah itulah, dia kesengsem pada Nina Kirana. “Dulu dikenalkan teman. Mas Karwo sudah kuliah, saya masih SMA. Saya memang suka karena orangnya tidak pernah jaga image,” kenang Nina, tertawa.
Sampai sekarang pun, kebiasaan selama pacaran masih terbawa. “Saya masih manggil Bapak dengan Mas Karwo, dia juga masih nyebut saya Dik Nin,” ujar Nina. “Biar suasananya masih sama seperti pacaran dulu, meskipun ini sudah hampir punya cucu.”
Saat disinggung mengenai kemungkinan terburuk dirinya gagal dalam pilgub kali ini, Soekarwo menghela napas agak panjang. Tanda bahwa ia berpikir sejenak. Namun, ia terlihat tidak marah dengan pertanyaan sensitif tersebut. “Pesan ayah saya dulu hanya satu. Berbuatlah yang terbaik, lalu kembalikan hasilnya pada Allah,” ujar Soekarwo. k3
****
Putranya Pembersih Ikan, Putrinya Pramusaji
Jabatan Sekretaris Pemprov Jatim adalah puncak karir bagi semua ambtenaar se-Jatim. Soekarwo menduduki jabatan itu selama lima tahun sejak 2003. Sebelumnya, dia identik dengan ‘pendapatan’.
Mulai jadi Kepala Cabang Dinas Pendapatan di Surabaya, Kepala Sub Dinas Pendapatan Pemprov Jatim sampai Kepala Dinas Pendapatan Pemprov Jatim. Pendek kata, kalau mau kongkalikong, tak sulit bagi dia memasukkan anak-anaknya sebagai ambtenaar atawa pegawai negeri sipil.
Namun, Soekarwo memilih cara lain. Dia mempersilakan anak pertamanya, Ferdian Timur Satya Graha, 26, ‘mengasingkan’ diri ke Kalimantan. Di sana dia bisnis perumahan bersama rekan-rekan kuliahnya.
“Bapak pesan, kalau mau jadi pengusaha, usahakan memilih bidang yang tidak bersinggungan dengan bapak,” ujar Ferdi, panggilan akrab Ferdian. Ia mengaku, status ayahnya sebagai pejabat di provinsi membuatnya sungkan untuk mengikuti tes calon PNS.
“Ya, memang serba salah. Maunya ikut tes, tapi nanti ada suara miring. Kadang saya merasa tidak adil, bagaimana bila saya memang punya kemampuan dan bisa lulus tes tanpa bantuan ’surat sakti’?” ujarnya.
Sebenarnya, anak-anak Soekarwo tergolong sukses dalam pendidikan. Ferdi misalnya, memang sempat keluar dari Teknik Industri Ubaya karena merasa tak cocok dengan dunia teknik.
Namun, ia bangkit dan mampu lulus S1 dan S2 sekaligus hanya dalam waktu lima tahun. Kedua gelar itu ia raih di Universitas Deakin, Melbourne, Australia.
Sekali lagi, kearifan Soekarwo dalam membesarkan anak-anaknya diterapkan disini. Pejabat sekelas Soekarwo sebenarnya lebih dari mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Namun, ia tidak ingin anak-anaknya manja dengan pasokan uang berlimpah.
“Selama di sana, bapak hanya memberi saya uang sekolah. Tapi untuk biaya hidup, saya harus kerja,” ujar Ferdi. Bersama adiknya yang kuliah di kampus sama, Ferdi harus bekerja paruh waktu.
Status sebagai anak pejabat tak membuatnya rikuh bekerja sebagai tukang membersihkan ikan di Victoria Market, pasar tradisional di Melbourne. Sementara Mita bekerja sebagai waitress alias pramusaji.
“Dulu, pas dapat gaji pertama, sebagian uang itu dikirimkan anak-anak ke saya. Kata Mita, jangan lihat jumlahnya, tapi niatnya. Saya sampai menangis,” kenang Nina Kirana, istri Soekarwo.
Tapi hal ini dianggap Soekarwo sebagai sesuatu yang wajar. “Yo ngono iku urip, le. Ini untuk kebaikan kalian juga,” kata Ferdi menirukan komentar ayahnya. Apa yang membuat keluarga kagum pada sosok Soekarwo? “Ayah sangat hebat dalam memotivasi kami,” ujar Ferdi.
Soekarwo memang dipandang sebagai sosok yang menyenangkan di rumah. Selain piawai menghadirkan suasana ceria di rumah, Soekarwo adalah ayah yang penyabar.
“Kalau ayah ada masalah, hanya terlihat di raut wajahnya. Tapi tidak pernah terbawa pada sikapnya,” tambahnya.
Ferdi juga mengaku sangat jarang melihat Soekarwo marah. “Seingat saya ayah marah hanya sekali. Itu dulu sekali, saat saya terkunci sama adik di bagasi mobil,” kenang Ferdi sambil tertawa. “Ayah marah kalau adik-adik pulang kemalaman. Tapi itu pun hanya menegur mereka untuk segera pulang.”
Selama kampanye, Ferdi tergolong paling intens membantu Soekarwo. Ketika masih di Australia, ia hanya bisa membantu dari jauh dengan membuatkan situs friendster.
“Kelihatannya sepele, tapi lewat friendster kami bisa mendekatkan diri ke para pemilih pemula,” terangnya.
Saat ia pulang ke Indonesia, giliran ia menemani ayahnya berkeliling dalam setiap agenda kampanye. “Yang paling berkesan ketika di Madura. Melihat banyaknya masyarakat yang ingin salaman sama ayah. Jujur, rasanya hati ini menangis lihat ayah dielu-elukan, karena biasanya saya hanya lihat di koran,” ujar Ferdi. k3
(Surya, 22 Juli 2008)