Pemilihan umum 2004 ditandai meroketnya prestasi politik Partai Demokrat (PD) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PD yang dipimpin Prof Dr Subur Budisantoso dengan tokoh utama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tampil sebagai kekuatan penting di ranah politik nasional.
Partai ini dipersiapkan tak lama untuk tampil di ajang pemilu 2004. SBY yang duduk sebagai Menko Polhukam di Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati Soekarnoputri, mengundurkan diri beberapa bulan menjelang pemilu 2004. PD sekaligus berhasil mengusung duet SBY-JK (Jusuf Kalla) ke kursi orang pertama dan kedua di Indonesia dan koalisi dengan PBB dan PKPI.
Hasil pemilu legislatif 2004 menunjukkan bahwa Partai Golkar tampil sebagai pemenang dengan mengoleksi 24.461.104 suara atau 21,62% atau setara dengan 128 kursi DPR RI. Posisi kedua ditempati PDIP dengan 20.710.006 suara atau 18,31% atau setara dengan 109 kursi DPR RI.
Posisi berikutnya oleh PKB dengan perolehan 12.002.885 suara atau 10,61% atau setara dengan 52 kursi DPR RI, PPP dengan perolehan 9.248.764 suara atau 9,15% atau setara dengan 58 kursi, Partai Demokrat dengan perolehan 8.437.868 suara atau 7,46% atau setara dengan 57 kursi DPR RI, PKS dengan perolehan 8.144.457 suara atau 7,20% atau setara dengan 45 kursi DPR RI, dan PAN dengan perolehan 7.255.331 suara atau 6,41% atau setara dengan 53 kursi DPR RI.
PD dan PKS merupakan partai yang menorehkan prestasi politik bagus di pemilu 2004. Sedang PDIP adalah partai yang kinerjanya menurun dibanding kinerja partai ini pada pemilu 1999. Yang mana pada pemilu pertama Orde Reformasi itu, PDIP mencatat prestasi politik mencengangkan: 32% suara lebih.
Baik PD maupun PKS adalah partai yang mewakili sayap ideologi politik berbeda. PD sejak dideklarasikan mentasbihkan diri sebagai partai berhaluan nasionalis-religius. Partai ini menempatkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar organisasinya. Secara ideologi politik, platform PD tak jauh berbeda dengan Partai Golkar dan PDIP.
Cuma yang membedakan PD dengan Partai Golkar dan PDIP adalah usia dan ikatan kesejarahannya. Partai Golkar memiliki ikatan sejarah dengan penguasa Orde Baru Soeharto, sedang PDIP secara kultural-ideologis dan historis-ideologis masih ada hubungan dengan PNI yang didirikan Soekarno.
Di sisi lain, PKS merupakan kekuatan Islam politik, terutama dari kalangan Islam Puritan perkotaan yang masih ada kaitan historis dengan Partai Keadilan (PK). PK didirikan sejumlah aktivis Islam kampus yang terjun di ranah politik praktis dengan Presiden PK pertama Nurmahmudi Ismail.
Pada pemilu 1999, perolehan suara PK tak signifikan sehingga tak lolos electoral threshold sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menjelang pemilu 2004, petinggi PK dan aktivis Islam Puritan lainnya melanjutkan visi dan misi perjuangan PK dengan mengganti nama jadi PKS. Presiden PKS pertama adalah Hidayat Nurwahid, aktivis Islam dari Kabupaten Klaten, Jateng.
Hasil pemilu 2004 juga menunjukkan masih kuatnya partai berbasis nasionalis dibanding partai berbasis religius (Islam). Kemunculan PD makin menambah kokohnya partai berpaham nasionalis.
Dari 7 partai besar hasil pemilu 2004, yakni Partai Golkar, PDIP, PD, PPP, PKS, PKB, dan PAN, akumulasi persentase suara partai berpaham nasionalis mencapai 47,39%. Angka persentase itu adalah gabungan persentase suara yang didapatkan Partai Golkar, PDIP, dan PD.
Di sisi lain, partai religius (Islam) baik dalam perspektif ideologis maupun konstituen Islam, yang terdiri dari PPP, PKB, PKS, dan PAN mencapai 33,37%. Memang, dari keempat partai yang dimasukkan dalam kategori partai religius (Islam) itu, hanya PPP dan PKS yang mendasarkan Islam pada ideologi, visi, dan misi. Sedang PKB dan PAN hakikatnya partai terbuka.
Fakta empiris menunjukkan bahwa kepemimpinan dan massa pendukung PKB sebagian besar adalah tokoh dan warga NU, terutama di Jatim dan Jateng. Kedua provinsi ini memberikan kontribusi suara sekitar 70% sampai 75% pada PKB pada pemilu 1999 dan 2004.
PAN juga demikian. Blue print partai dengan tokoh utama Amien Rais ini sebagian besar kepemimpinan dan basis massa pendukungnya adalah Muhammadiyah, kelompok Islam Modernis di Indonesia. Tapi, visi dan misi PAN adalah partai terbuka.
Dibanding hasil pemilu 1955, perolehan suara partai berbasis Islam (baik dalam ideologis maupun konstituen) pada pemilu 2004 mengalami penurunan. Pada pemilu 1955, gabungan partai Islam mendapatkan suara lebih dari 42%. Tapi, kinerja politik partai Islam di pemilu 2004 jauh lebih baik dibanding kinerja PPP–satu-satunya partai Islam–sepanjang pemilu Orde Baru.
Dalam pemilihan umum kedua Orde Baru tahun 1977, perolehan suara PPP 29% dan dalam pemilu 1982 sebesar 27%. Persentase suara dukungan kepada PPP itu terus menurun sepanjang pemilu Orde Baru, terutama pada pemilu 1987, setelah ada politik penggembosan elite NU terhadap PPP yang dipimpin HJ Naro. Kinerja politik PPP membaik kembali pada pemilu 1992 dan pemilu 1992 di bawah pimpinan Ismail Hasan Metareum.
Sumber utama penurunan ini adalah tidak pernah pulihnya kekuatan Masyumi. Sejumlah wilayah pendukung utama Masyumi pada pemilu 1955, misalnya pemilih di Jawa Barat, Sumatera, sebagian Kalimantan, dan Sulawesi telah berubah menjadi basis dukungan buat Partai Golkar.
Bagaimana menjelang pemilu 2009? Apakah bakal ada kejutan politik lagi? Partai Gerindra dengan tokoh utama Letjen Purn Prabowo Subianto disebut-sebut–setidaknya oleh beberapa lembaga survei–sebagai kekuatan politik baru yang bakal mendapat suara signifikan pada pemilu nanti. Partai Gerindra ini juga berpaham nasionalis.
Banyak lembaga survei menyebutkan bahwa 3 kekuatan politik besar di Indonesia pada pemilu 2009 tepat ditempati partai berpaham nasionalis: Partai Golkar, PDIP, dan PD. Bagaimana kemungkinan prestasi partai Islam di pemilu 2009 ini? [bj2/habis]
